<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Teknologi Pembelajaran</title>
	<atom:link href="http://teknologipembelajaran.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 25 Jul 2008 02:22:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='teknologipembelajaran.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Teknologi Pembelajaran</title>
		<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://teknologipembelajaran.wordpress.com/osd.xml" title="Teknologi Pembelajaran" />
	<atom:link rel='hub' href='http://teknologipembelajaran.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>IMPLEMENTASI KURIKULUM: Sebuah Perbandingan antara Kurikulum Ornstein &amp; Hunkins dan KTSP</title>
		<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/07/25/implementasi-kurikulumsebuah-perbandingan-antara-kurikulum-ornstein-hunkins-dan-ktsp/</link>
		<comments>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/07/25/implementasi-kurikulumsebuah-perbandingan-antara-kurikulum-ornstein-hunkins-dan-ktsp/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 02:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukmantp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologipembelajaran.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lukman A. Irfan   Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta, Bekerja di Program Pascasarjana Magister Studi Islam UII Yogyakarta Bidang Pengembangan Akademik     A.     Pendahuluan Implementasi evaluasi pendidikan yang ditetapkan pemerintah, yaitu Ujian Nasional barusan berlangsung. ‘Gawe’ besar pendidikan nasional tersebut secara umum dinyatakan berlangsung dengan sukses. Ujian nasional merupakan rangkaian besar pelaksanaan Undang-Undang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=12&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Oleh: Lukman A. Irfan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bekerja di Program Pascasarjana Magister Studi Islam UII Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Bidang Pengembangan Akademik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">A.</span></strong><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">     </span><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pendahuluan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi evaluasi pendidikan yang ditetapkan pemerintah, yaitu Ujian Nasional barusan berlangsung. ‘Gawe’ besar pendidikan nasional tersebut secara umum dinyatakan berlangsung dengan sukses. Ujian nasional merupakan rangkaian besar pelaksanaan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003. Undang-undang, peraturan menteri, peraturan pemerintah. Implementasinya memang seringkali menimbulkan jarak. Begitu juga dengan Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dalam implementasinya (walau saat ini masih masa transisi), namun di beberapa daerah sudah mulai menunjukkan indikator adanya kesulitan pelaksanaannya atau lebih tepat kebingungan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Makalah berikut akan mencoba mereview Bab X dari buku yang ditulis oleh<em> </em>Allan C. Ornstein dan Francis P. Hunkins. 2004. <em>Curriculum: Foundation, Principles, And Issues</em>, Fourth Edition. Boston USA: Pearson Education, tentang Curriculum Implementation. Pereview akan mendeskripsikan inti Implementasi Kurikulum yang ada dalam buku tersebut dan kemudian menelaahnya dan mengkontektualisasikannya dengan implementasi KTSP. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">B.</span></strong><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">     </span><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pokok Pembahasan dalam Implementasi Kurikulum Ornstein &amp; Hunkins</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Fokus Pembahasan Implementasi Kurikulum <span style="color:#000000;">Ornstein &amp; Hunkins meliputi: 1) Mengapa implementasi mempertimbangkan suatu aktivitas restrukturisasi? 2) Bagaimana cara menghubungkan perencanaan dengan implementasi? 3) Apa peran <em>communication play</em> (?) dalam aktivitas pelaksanaan? 4) Untuk apa perluasan berkaitan dengan sifat alami perubahan bersamaan dengan imlementasi kurikulum? 5) Apa langkah yang umum untuk mengimplemantasikan berbagai model implementasi kurikulum? 6) Kenapa masyarakat cenderung menentang perubahan? 7) Bagaimana kita meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap perubahan? 8) Faktor-faktor apa yang mempengaruhi proses implementasi kurikulum? 9) Peran apa yang dapat membangun asumsi masyarakat dalam proses perubahan di bidang pendidikan?</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kurikulum tidak akan tercapai jika hanya dibiarkan setelah dikembangkan. Kurikulum yang telah didesain optimal harus diimplementasikan dan mempunyai hasil bagi pembelajaran. Banyak kurikulum yang telah didesain dan dikembangkan tidak diiplementasikan karena ketiadaan suatu rencana perubahan dalam keseluruhan suatu sistem persekolahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kurikulum baru yang gagal boleh jadi karena alasan belum mempertimbangkan pengembangan kurikulum secara kritis. Seringkali, individu dalam sekolah percaya bahwa usaha kurikulum adalah untuk melengkapi rencana baru yang dikembangkan atau material baru yang dibeli. Perhatian lebih banyak diberikan pada permasalahan manajemen dan organisasi dibanding pada perubahan kurikulum. Banyak individu yang bertanggung jawab pada kurikulum tidak memprosses suatu pandangan makro perubahan atau menyadari bahwa inovasi memerlukan perencanaan hati-hati dan monitoring yang ketat. Individu tersebut sering berpikir bahwa implementasi adalah merupakan pengunaan program baru atau tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi yang sukses adalah suatu proses yang mempunyai beberapa hal baru. Implementasi tergantung pada pendekatan umum pengembangan kurikulum dan kurikulum itu sendiri. Kebanyakan orang percaya bahwa implementasi yang sukses, bersandarkan pada penggambaran langkah-langkah yang tepat yang terutama menyangkut proses pengembangan. Kebanyakan orang mempertimbangkan implementasi adalah sebagai sesuatu yang tak dapat diramalkan dan tidak pasti. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi dapat dipandang sebagai rangkaian yang sangat teknis secara alami ke seluruh aliran dan sangat estetis. Titik pusatnya adalah bahwa hal ini merupakan suatu komponen dalam siklus tindakan kurikulum yang tidak bisa dilalaikan. Langkah ini melibatkan tindakan luas yang tidak hanya, sebagai contoh, perubahan tempat kerja untuk staff. Implementasi merupakan usaha untuk mengubah pengetahuan, tindakan, dan sikap individu. Implementasi adalah suatu interaksi proses antara mereka yang menciptakan program dan mereka yang melaksanakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sifat Alami Implementasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Leslie Bishop menyatakan bahwa beberapa tahun yang lalu, implementasi memerlukan penggantian dan restrukturisasi. Keadaan tersebut masih benar di abad ini. Implementasi memerlukan penyesuaian kebiasaan pribadi, tindakan, mengutamakan program, tempat belajar, dan suatu schedule kurikulum. Hal ini mempunyai pengertian bahwa pendidik bergeser dari program yang sekarang kepada program yang baru. Seorang pemimpin kurikulum dapat mencetuskan perubahan perilaku staff dan tergantung pada mutu perencanaan awal dan presisi langkah-langkah pengembangan kurikulum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pemimpin aktivitas kurikulum sudah menyadari bahwa implementasi adalah suatu aspek penting pengembangan kurikulum, dalam dua dekade terakhir di abad duapuluh, implementasi menjadi suatu perhatian bidang utama pendidikan. Hal ini meningkatkan anggaran menjadi berjuta-juta dolar yang dibelanjakan untuk mengembangkan proyek kurikulum. Dan banyak projek yang tidak berhasil. Saat ini, kritikus pendidikan masih mencatat bahwa banyak kurikulum belum sukses dengan siswanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Ada banyak alasan dari kegagalan tersebut. Barangkali, alasan utamanya adalah sebagaimana dikemukakan oleh Seymour Sarason. Ia mengemukakan, banyak fakta bahwa perubahan bidang pendidikan telah gagal sebab usaha yang bertanggung-jawab atas perubahan tersebut mempunyai sedikit atau pemahaman yang salah menyangkut kultur sekolah. Banyak program inovatif didesain oleh tenaga ahli dari dan di luar sekolah. Bagaimanapun, ketidak-tahuan kultur sekolah adalah juga permasalahan antar pendidik. Barangkali, inovasi belum diterapkan sebab pendidik telah kurang sabar, kurang cepat menghasilkan sesuatu untuk menyenangkan legistator dan publik mengkondisikan untuk perbaikan yang menentukan dan cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sarason mencatat dua hal penting sebagai dasar esensial untuk implementasi. Yang pertama adalah informasi teoritis, yang menghubungkan teori perubahan keorganisasian dan teori pengetahuan dengan bagaimana gagasan berkait dengan suatu dunia nyata yang kontekstual. Pemahaman yang kedua berhubungan dengan perubahan, khususnya konteks <em>social-institutional</em>. Pelaksana yang sukses menyerap sifat alami konteks ke dalam kurikulum baru. Mereka memahami struktur organisasi, tradisi suci, hubungan kekuasaan, dan bagaimana anggota menggambarkan diri mereka dalam peran mereka. Pelaksana menyadari bahwa semua faktor ini ada dalam konteks mereka dan mempengaruhi dinamika.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pandangan seseorang tentang konteks <em>social-institutional</em> ini dipengaruhi oleh apakah orang merasa dunia pendidikan sebagai sesuatu yang teknis atau non-teknis. Beberapa individu percaya bahwa ini adalah aktivitas kurikulum yang dapat diuraikan secara rinci; yang lain berpendapat bahwa hal ini adalah mengalir dan aktivitas yang muncul adalah lebih sedikit untuk dipahami dan diatur dibanding untuk dihargai dan didukung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Ketika mendiskusikan implementasi, kita harus mempertimbangkan berbagai asumsi, yang kita bawa kepada sebagian proses. Kita dapat berasumsi bahwa implementasi hanya perencanaan kurikulum atau implementasi proses untuk mengalir, dengan kompleksitas yang tak terduga dan muncul dari waktu ke waktu. Apapun pendirian kita, dan mungkin baik adalah mengkombinasikan keduanya. Kita harus realiistis untuk implementasi. Kita harus mendapatkan &#8220;gambaran yang besar.&#8221; Pengembang kurikulum, pengurus, para guru, dan para penyelia harus jelas tentang tujuan, <em>nature</em>, hal-hal yang potensial dan hal yang riil tentang keuntungan dari inovasi tersebut. Dan yang pasti, harus membayar para guru dan yang lain untuk usaha ekstra merekadalam keterlibatan mereka pada implementasi dan perubahan kurikulum. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Hubungan Implementasi dengan Perencanaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi kurikulum yang sukses dihasilkan dari perencanaan hati-hati. Proses perencanaan membutuhkan sumber daya untuk menyelesaikan aktivitas yang diharapkan. Hal ini menetapkan dan menentukan bagaimana cara mengurus kebijakan yang akan memerintah tindakan yang direncanakan tersebut. Planninng berlangsung sebelum program atau penyerahan program.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Matthew Miles dan Karen Louis mencatat bahwa untuk perencanaan untuk terjadi harus ada visi yang dibangun. Dalam riset, mereka menemukan bahwa sekolah yang sukses dalam menerapkan perubahan yang meningkatkan program mereka mempunyai staff yang memegang gambaran serupa dari apa yang sekolah perlukan. Para guru merasa terikat dengan program yang baru dan dikengembangkan dan mempunyai semangat terhadap inovasi itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Apapun juga orientasi seseorang kepada kurikulum, tidak ada penyangkalan bahwa implementasi itu memerlukan perencanaan, dan perencanaan terfokus pada tiga faktor: orang-orang, program, dan proses. Tiga  faktor tidak dapat dipisahkan. Seorang pemimpin boleh menekan satu faktor lebih dari yang lain, tetapi tidak ada pemimpin yang mahir yang akan mengabaikan tiap faktor sama sekali semuanya. Banyak sekolah yang sudah gagal untuk menerapkan program mereka sebab mereka mengabaikan faktor-faktor dan membelanjakan uang dan waktu untuk memodifikasi hanya program atau proses. Satu alasan mengapa banyak proyek kurikulum gagal adalah bahwa pembaharu kurikulum, khususnya dari universitas, memusatkan energi mereka pada mengubah program tetapi tidak cukup perhatian pada kebutuhan para guru dan perhatian minimal kepada organisasi sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Incrementalism</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Banyak orang ingin perubahan, namun mereka juga takut akan perubahan, terutama jika datang dengan cepat atau jika mereka merasakan hanya mempunyai sedikit kendali atau pengaruh atas perubahan tersebut. Dunia guru tidak mempunyai daya penerima untuk berubah. Fullan dan Goodlad mendeskripsikan bahwa guru sehari-hari rutin mempunyai kesempatan sedikit untuk interaksi dengan para rekan kerja. Hal ini merupakan pengasingan yang menghasilkan organisasi sekolah menyatu dalam kelas dan pengajaran jadwal. Seymour Sarason juga telah menafsirkan pengasingan guru dalam organisasi sekolah dan pada pengasingan tersebut secara negatif berdampak pada perubahan. Ia menetapkan bahwa kenyataan sekolah buat para guru merasakan bahwa, secara profesi, mereka adalah milik mereka sendiri. Adalah tanggung jawab mereka, dan milik mereka sendiri, untuk memecahkan permasalahan mereka. Hal ini menyebabkan para guru memandang perubahan dalam program sebagai suatu aktivitas individu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Masalah kunci dalam usaha untuk menerapkan kurikulum baru adalah bahwa banyak orang individu dalam kebijakan yang umum memandang sekolah dan lingkungan mereka sebagai sama saja. Sekolah adalah sekolah. <em>Mind-set</em> ini menyebabkan individu, dan bahkan beberapa pendidik, merasakan bahwa rata-rata implementasi secara umum adalah sama saja; tidak perlu melakukan penyesuaian prosedur implementasi yang cocok bagi sekolah tertentu. Bagaimanapun, pendidik intinya sedang membuat kasus unik bagi sekolah masing-masing dan berfungsi kultur. Oleh karenanya, kurikulum baru yang berasal dari di luar sekolah terkait sering menciptakan perselisihan budaya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Konsep sekolah dan kurikulum yang kaku berdampak pada peran guru. Tantangannya adalah untuk mendapatkan pendidik untuk berpikir tentang jalan baru untuk menciptakan kurikulum dan jalan baru untuk pembelajaran di dalam kultur sekolah unik. Kita harus memotivasi para guru untuk mengasumsikan peran baru dan mereka bertanggung jawab untuk itu yang mana telah diterapkan atau ditetapkan. Para guru perlu mempertimbangkan untuk menjadi <em>playrwrigt</em>, produsen, dan aktor ‘film’ baru dalam simponi bidang pendidikan. Dan harus dipikirkan  bagaimana cara kita memperoleh persetujuan khalayak ramai dan dukungan untuk peran guru baru seperti itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi, tidak terjadi dengan tiba-tiba dengan semua guru. Idealnya, suatu proses implementasi membutuhkan cukup waktu untuk guru guna mencoba kurikulum yang baru. Loucks dan Lieberman sudah menemukan bahwa guru berhasil dengan suatu kurikulum baru, jika: guru mengorientasi diri mereka kepada materi dan melibatkan dalam peran itu akan serta menyiapkan mereka membawa. Pada mulanya penggunaan kurikulum yang baru adalah mekanik. Mereka mengikuti pemandu dengan penyimpangan yang sedikit dan mereka mengambil prakarsa sedikit untuk membuat perubahan apapun dalam kurikulum itu. Ketika mereka menjadi lebih nyaman dengan kurikulum, mereka mulai untuk memodifikasi itu, yang manapun untuk melakukan penyesuaiannya ke filosofi bidang pendidikan mereka sendiri atau ke konteks kebutuhan siswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Menkomunikasikan Rencana Implementasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kapanpun dan dimanapun saat program baru sedang dirancang, saluran komunikasi harus dibiarkan terbuka sehingga program yang baru datang bukan sebagai suatu kejutan. Diskusi tentang suatu program baru antar para guru, utama, dan <em>kurikulum wirkers</em> adalah kunci sukses implementasi. Tetapi komunikasi adalah peristiwa kompleks. Komunikasi menggambarkan transmisi fakta, gagasan, nilai-nilai, perasaan, dan sikap dari seseorang kelompok ke yang lain. Komunikasi berhadapan dengan pesan yang memproses antara pengirim dan penerima suatu pesan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Mengetahui komunikasi adalah pesan antara pengirim dan penerima tidaklah cukup untuk memastikan bahwa komunikasi akan jadi efektif, akurat atau bermutu. Untuk meyakinkan bahwa jaringan komunikasi adalah menyeluruh dan pesan yang dikirimkan pada tempatnya, spesialis kurikulum harus memahami saluran cummunication informal dalam sistem persekolahan. Saluran komunikasi formal mengikuti pengaturan yang mapan dalam tingkatan organisasi. Komunikasi dapat mengalir sepanjang seluruh tingkat organisasi, baik vertikal maupun horisontal antar panutan. Komunikasi ke samping akan membentuk networking horisontal antar panutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tantangan komunikasi, formal atau informal, samping atau mengarah ke bawah atau menaik, adalah pesan yang disiarkan dalam bentuk lisan atau bentuk tulis. Informasi tentang program baru dapat dikomunikasikan atas pertolongan surat, memo, artikel, buku, buletin, laporan riset, dan pidato/suara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Dukungan Implementasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Para perancang kurikulum harus didukung untuk modifikasi program yang direkomendasikan untuk memudahkan implementasi cepat mereka. Mereka harus lakukan ini sehingga mereka dapat membangun keyakinan diri mereka. Pendidik sering memerlukan pelatihan untuk merasakan nyaman dengan program baru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Guru mempunyai tanggung jawab utama adalah untuk mengajarkan kurikulum, tetapi para guru, jika mereka ingin mempunyai suatu pengaruh dalam implementasi dan pengembangan kurikulum harus mempunyai suatu pemahaman yang tepat mengenai konsep kurikulum dan bagaimana suatu kurikulum diciptakan.  Tanpa dukungan keuangan cukup, usaha untuk mendapatkan suatu program yang efektif akan gagal. Uang diperlukan untuk peralatan dan material suatu program baru. Uang adalah juga diperlukan untuk menyediakan dukungan manusia untuk implementasi sebuah usaha. Di tingkatan yang lokal itu, ada lima langkah yang dilibatkan dalam <em>budgetting program</em> baru: persiapan, ketundukan, adopsi, pelaksanaan, dan evaluasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Suatu hubungan kepercayaan harus ada antar semua organ dalam sekolah, khususnya antara administrator dan guru. Kepercayaan adalah penjamin utama kunci sukses inovasi dan implementasi. Implementasi adalah suatu usaha emosional dan kolaboratif. Dukungan adalah hal penting jika implementasi diharapkan sukses. Dan Lortie menunjuk para guru mengalokasikan mayoritas waktu kerja mereka dalam kelas dengan para siswa mereka, oleh karena itu hendaknya mereka mempunyai komunikasi minimal dengan rekan dan pemimpin mereka. Peluang untuk para guru untuk bekerja sama, berbagi gagasan, bersama-sama memecahkan permasalahan, dan dengan cara kerja sama menciptakan material yang memungkinkan implementasi kurikulum dapat sukses.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi Sebagai Proses Perubahan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tujuan pengembangan kurikulum, dengan mengabaikan tingkatan, adalah untuk membuat suatu perbedaan untuk memungkinkan para siswa untuk mencapai tujuan milik sekolah, tujuan milik masyarakat, dan, barangkali yang paling penting, capaian dan tujuan mereka sendiri. Implementasi, suatu bagian penting pengembangan kurikulum, membawa ke dalam kenyataan mengantisipasi perubahan. Sederhananya, aktivitas kurikulum adalah aktivitas perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tetapi apa yang terjadi ketika perubahan terjadi? Apa yang merupakan sumber perubahan? Dapatkah orang-orang meramalkan konsekuensi perubahan? Dapatkah pendidik mengendalikan perubahan yang secara langsung mempengaruhi mereka? Tentu saja, orang-orang dapat menggunakan beberapa pengendalian di atas proses perubahan, tetapi untuk melakukannya memerlukan pemahaman terhadap perubahan. Pemahaman terhadap konsep perubahan dan berbagai jenis perubahan mengijinkan individu untuk menentukan sumber perubahan. Hal itu membantu mereka menyadari bahwa, sungguhpun mereka tidak bisa benar-benar meramalkan konsekuensi perubahan, mereka dapat membuat &#8220;terkaan terbaik&#8221; meramalkan tentang perubahan akan menghasilkan sesuatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Di dalam pemahaman tentang konsep perubahan, pendidik harus menyadari sikap orang-orang (masyarakat) tentang implementasi dan perubahan ketika proses perubahan dipengaruhi oleh pandangan kenyataan umum mereka. Mereka yang menerima model pengembangan kurikulum yang masuk akal akan memandang perubahan sebagai sesuatu  yang dengan tepat mengatur dan mengimplementasikan rencana. Implementasi menjadi bagian dari suatu proses perubahan yang linier.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Mereka yang awam akan merasa perubahan sebagai sesuatu yang tak mungkin dengan ketat dikendalikan. Suatu tahap di dalam aktivitas kurikulum, pengundangan atau implementasi bukanlah sesuatu yang terjadi di dalam suatu pertunjukan linier. Mengamati implementasi ketika interaksi berarti bahwa orang tidak bisa mengalah kepada permintaan obyektifitas dan kuantifikasi. Tentu saja, orientasi perubahan ini menunjukkan suatu proses pencerahan individu: sikap dan kepercayaan mereka. Pertimbangan yang dibuat oleh konstruksi pribadi dari kenyataan mereka dan sikap mereka ke arah hidup dan nilai-nilai yang mereka pegang sebagai sesuatu yang suci.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Dengan mengabaikan orang awam yang setia untuk, tidak ada penyangkalan bahwa perubahan dapat terjadi dalam beberapa jalan. Dua jalan yang paling jelas nyata adalah perubahan lambat seperti ketika penyesuaian kecil seperti jadwal kursus, ketika beberapa buku ditambahkan pada perpustakaan, atau ketika rencana pelajaran atau unit memperbarui guru.  Dan perubahan cepat seperti hasil daripengetahuan baru atau kecenderungan sosial yang berdampak pada atas sekolah, seperti komputer yang sedang diperkenalkan ke dalam kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sekarang ini, sekolah sedang dilibatkan banyak perubahan cepat dibanding perubahan lambat. Kita sedang mengalami; mencoba perubahan cepat yang tidak hanya di dalam basis pengetahuan kita: bagaimana fungsi otak, bagaimana pelajaran terjadi, tetapi juga perubahan dalam ilmu kependudukan negeri dan terus meningkat keaneka-ragaman kelompok di dalam masyarakat. Perubahan cepat sedang terjadi di dalam latar belakang keluarga dan <em>sturcture, subculturea</em>, dan kelompok masyarakat. Pluralisme budaya sedang menjadi trend dan menemukan momentumnya. Sebagai tambahan, teknologi bidang pendidikan juga sedang trend dan menemukan momentumnya, berdampak pada kurikulum dan pengeimplementasiannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Menurut riset, untuk merubah kurikulum dan dengan sukses diterapkan, yang manapun pelan-pelan atau dengan cepat, lima petunjuk di bawah ini harus diikuti untuk membantu menghindari kekeliruan sebagaimana masa lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Merancang inovasi untuk meningkatkan prestasi siswa harus secara teknis bunyi. Maksudnya bahwa perubahan perlu mencerminkan riset tentang apakah bekerja dan tidak bekerja, bukan mendisain untuk peningkatan secara kebetulan menjadi populer hari ini atau besok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Inovasi yang sukses memerlukan perubahan di dalam struktur suatu sekolah tradisional. Dengan perubahan struktural, kita berarti memodifikasi hal yang utama menyangkut para guru dan siswa, apakah ditugaskan ke kelas dan saling berhubungan satu sama lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Inovasi harus mungkin dan dapat dikendalikan oleh rata-rata guru. Kita tidak bisa menginovasi gagasan mengenai masalah atau pemikiran solutif ketika siswa tidak bisa membaca atau tulis dasar Bahasa Inggris atau berkeberatan untuk aktif di dalam kelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">4.</span><span style="font-size:7pt;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Implementasi dari usaha perubahan sukses harus organik bukan birokratis. Ketegasan, monitoring prosedur, dan aturan bukanlah hal yang memungkinkan untuk perubahan; pendekatan yang birokratis ini perlu untuk digantikan oleh suatu pendekatan yang adaptip atau organik yang mengijinkan penyimpangan beberapa dari perencanaan asli dan mengenali orang pada permasalahan dan kondisi-kondisi menyangkut sekolah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">5.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Hindarilah sindrom &#8220;lakukan sesuatu, kerjakan apapun&#8221; sindrom. Kebutuhan adalah untuk suatu rencana kurikulum terbatas, untuk memusatkan usaha seseorang, waktu, dan uang pada aktivitas dan isi yang adalah serasi dan rational.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Teori Perubahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perubahan dihasilkan oleh pengetahuan baru, namun kehadiran pengetahuan baru tidaklah cukup untuk perubahan. Masyarakat harus mengenali suatu kebutuhan untuk berubah. Lovell mengemukakan teori perubahan yang menyertakan lima proses: 1) kepemimpinan;  2) komunikasi; 3) pelepasan potensi manusia; 4) </span><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">problem solving;<span style="color:#000000;"> dan 5) evaluasi. Proses ini dapat mendorong ke arah sistem (sekolah) kohesi dan kooperasi atau konflik dan tegangan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Untuk menetapkan perubahan kurikulum harus mengerti konteks lingkungan di mana mereka sedang beroperasi. Suatu audit eksternal harus dibuat pada tahap awal pengembangan kurikulum untuk mengumpulkan dan menilai informasi berkenaan dengan yang demografis masyarakat dan socioiculturalnya, politic-legal, dan aspek yang lain. Data ekonomi pada faktor seperti diberikan sehingga tahap implementasi yang dibuat sensitif pada harapan dan sikap masyarakat. Informasi tentang lingkungan yang eksternal, melengkapi informasi baru, identitas harapan baru, dan menunjuk untuk memberi penghargaan. Masukan mengenai lingkungan eksternal seperti itu menghasilkan <em>tention</em> di dalam sistem bidang pendidikan, dari <em>disequilibrium</em> menuju <em>equilibrium</em> baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Membanidngkan toeri teori wiles&#8217;s dan Lo Lovell milik Kurt Lewin, yang dianggap sebagai bapak teori perubahan, terlihat banyak gagasan yang lebih sederhana. Lewin mempertimbangkan bahwa semua orang menemukan diri mereka di dalam lingkungan yang terdiri atas kekuatan persaingan: daya penggerak dan kekuatan pengendalian. Ketika dua  hal ini  berkekuatan sama, suatu keseimbangan atau timbangan yang yang hidup memungkinkan suatu posisi mantap atau keadaan tetap pada saat tertentu. Keadaan tetap pada saat tertentu ini adalah benar dengan mengabaikan apakah kita sedang mendiskusikan tindakan orang-orang atau kelompok atau fungsi organisasi. Bagaimanapun, pada waktu daya penggerak mulai menundukkan pengendalian kekuatan, pemicu tindakan  perubahan. Sepanjang daya penggerak ini lebih kuat, aktivitas perubahan akan berlanjut. Ketika pengendalian kekuatan memperoleh kembali daya gerak, perubahan akan melambat. Ketika kemapanan kembali, mengendalikan servis kekuatan untuk menghalangi perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Gambar Model Kekuatan Bidang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">                        </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><span style="color:#000000;">Daya penggerak                                   Pengendalian Kekuatan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> a. Intervensi Pemerintah                       a. Ketakutan yang tak dikenal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> b. Nilai-Nilai Masyarakat                     b. Ancaman untuk menggerakkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">                                                                atau hamparan rumput</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> c. Perubahan Teknologi                       c. ketrampilan atau Pengetahuan usang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> d. Ledakan Pengetahuan                      d. Nilai-Nilai tradisional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> e. Proses Administratif                         e. Sumber daya yang terbatas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> Lewin mengkonsep bahwa proses perubahan terdiri dari tiga langkah: 1) memilih situasi yang diketemukan dalam diri kita, suatu yang tidak beku, jika kamu berkehendak, dari poin A. Sesuatu yang tidak dibekukan dalam diri kita ini benar-benar berarti suatu penurunan pengendalian kekuatan dalam rangka merangsang daya penggerak. Lewin percaya bahwa yang merangsang perubahan adalah lebih baik mengurangi tenaga menyangkut pengendalian kekuatan dibanding untuk meningkatkan daya penggerak. Seperti itu adalah  tindakan mengijinkan daya penggerak untuk bertindak lebih secara alami di dalam situasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tipe Perubahan Bidang pendidikan</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border-collapse:collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="width:2.95in;background-color:transparent;border:windowtext 1pt solid;padding:0 5.4pt;" width="283" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sumber (Di) luar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Permintaan dari golongan berpengaruh; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">temuan riset, kuasa sah/tentang undang-undang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perubahan Secara spontan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kejutan [yang] terjadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Revolusioner Batasan waktu Mendadak, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">high-impact berubah</span></p>
</td>
<td style="border-right:windowtext 1pt solid;border-top:windowtext 1pt solid;border-left:#e0dfe3;width:2.95in;border-bottom:windowtext 1pt solid;background-color:transparent;padding:0 5.4pt;" width="283" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Di dalam Sumber</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Panitia kurikulum daerah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">kurikulum di sekolah tempat Panitia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perubahan Sengaja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Deliberative berubah hasil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Batasan waktu Evolusiner</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Lambat, terjadi dari waktu ke waktu, melalaikan dampak ber;ubah</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tipologi Perubahan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45pt;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Para penanggung-jawab kurikulum, untuk mengimplementasikannya, perlu memahami sifat alami perubahan. Dengan pemahaman, proses perubahan dapat menghadapi tantangan dan menyemangati mereka yang dilibatkan. Mereka yang tidak mengerti kompleksitas perubahan mungkin untuk memulai tindakan akan mengakibatkan perselisihan di dalam organisasi sekolah. Bennis mengemukakan beberapa jenis perubahan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perubahan yang direncanakan adalah perubahan di mana yang dilibatkan itu mempunyai kuasa sama dan fungsi. Orang-Orang mengidentifikasi dan mengikuti prosedur tepat dalam hubungan dengan aktivitas yang ada. Perubahan yang direncanakan menjadi yang ideal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perubahan dengan paksaan, ditandai oleh satu orang/kelompok menentukan tujuan dan dengan sengaja tidak masuk orang lain yang mengambil bagian. Kelompok terkendali mempunyai yang utama menggerakkan dan memelihara kuasa yang berbeda menyeimbangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Interaksi Perubahan ditandai oleh penentuan sasaran timbal balik dan suatu distribusi kuasa yang sama antar kelompok. Tetapi yang dilibatkan itu sering kekurangan suatu usaha sengaja; mereka adalah tidak-pasti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Lanjutan Rencana Implementasi dan Pengembangan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45pt;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kebalikan dari perubahan yang direncanakan adalah perubahan acak atau alami. Jenis perubahan ini terjadi dengan tidak ada penentuan sasaran. Sering perubahan alami terjadi di sekolah. Kurikulum disesuaikan atau dimodifikasi dan diterapkan bukan sebagai suatu hasil analisa hati-hati tetapi sebagai tanggapan ke peristiwa yang tidak diantisipasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45pt;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Robert Chin telah membahas tiga jenis strategi perubahan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Empirical-Rational</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Tekanan strategi pada pentingnya kebutuhan perubahan dan wewenang untuk menerapkan. Sering sekolah kekurangan pendekatan ini untuk berubah sebab mereka tidak mengetahui mereka memerlukan suatu perubahan maupun keterampilan untuk menerapkan itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Normative-Reeducative</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Strategi berdasar pada kecerdasan/inteligen dan rasionalitas manusia. Manusia akan berubah jika mereka didekati secara rasional dan dibuat untuk melihat bahwa mereka harus memodifikasi nilai-nilai, sikap, pemahaman, dan ketrampilan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Power Strategies</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Memaksa individu itu mematuhi berbagai keinginan dari mereka yang lebih pandai. Strategi paksaan jarang digunakan di dalam sekolah, kecuali saat luar biasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45pt;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">John McNeil telah menyelidiki proses perubahan dengan penggunaan kompleksitas organisator:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Substitution/</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Penggantian. Ini melukiskan perubahan di mana satu unsur mungkin diganti yang lain. Seorang guru, sebagai contoh, mengganti buku teks dengan buku yang lain. Jenis perubahan ini yang paling umum dan yang paling mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Alteration/</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> Perubahan. Perubahan jenis ini ada ketika seseorang memperkenalkan program dan materi atau prosedur baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pertubartion</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">/Gangguan. Perubahan ini bisa jadi pada mulanya mengganggu suatu program tetapi kemudian disesuaikan secara penuh oleh <em>leader </em>kurikulum denan program yang berkelanjutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">4.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Restructuring</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">/Restrukturisasi. Perubahan ini mendorong ke arah modifikasi sistem. Seperti konsep pengajaran baru, seperti perubahan susunan kepegawaian atau regu pengajar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">5.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Value-Orientation</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> <em>change</em>. Ini adalah pergeseran dalam orientasi kurikulum atau filosofi pokok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Model Implementasi Kurikulum</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pemilihan Model Implementasi kurikulum sering tergantung pada pilihan filosofis. Praktisi dan sarjana melanjutkan pada kebutuhan akan alat-alat yang efektif untuk meningkatkan kurikulum dan pengajarannya. Harris mengamati bahwa usul umum untuk strategi perubahan meliputi: 1) menjelaskan bentuk otoritas; 2) menyertakan peserta dalam penentuan sasaran, pemilihan staf, dan evaluasi; 3) penetapan tanggung-jawab dan peran guru; 4) personil pelatihan dalam strategi perubahan dan teknik<em> </em>resolusi konflik; dan 5) perabot perubahan dengan melibatkan dukungan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Checklist untuk Menerapkan Perubahan Kurikulum adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Bagaimana nantinya pribadi guru yang diubah oleh inovasi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Berapa banyak waktu persiapan tambahan yang diperlukan untuk inovasi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Bagaimana nantinya inovasi &#8220;cocok&#8221; dan ke materi apa pelajar diarahkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">4.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Apa macam sumber daya material guru yang akan disajikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">5.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Apa macam materi pelajaran baru yang disediakan untuk pelajar?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">6.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Apa pola teladan interaksi <em>teacher-learner</em> akan dituntut?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">7.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Bagaimana permintaan prosedur pengajaran diperlukan yang belum dikuasasi guru?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">8.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Apa macam pelatihan yang akan disajikan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">9.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Standardisasi test yang harus diambil?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">10.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">  </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Dukungan administrasi pemerintah (pemda) terhadap program baru?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">11.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">  </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Apa yang harus dilakukan orang tua untuk memahami dan mendukung program yang baru?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Menerapkan perubahan di dalam organisasi manapun, termasuk sekolah memerlukan berbagai tugas pendekatan. Secara esensial menerapkan perubahan meliputi tiga langkah, yaitu inisiasi, implementasi, dan pemeliharaan. <strong>Inisiasi <em>yaitu </em></strong>perubahan mengacu pada penentuan langkah proses implementasi, memperoleh kultur sekolah yang mau menerima inovasi yang direncanakan. Pada langkah ini, perencana menaikkan pertanyaan penting tentang siapa yang akan dilibatkan, yang diharapkan dari tingkat dukungan, dan apa yang merupakan status kesiap-siagaan person untuk inovasi. Idealnya, pertanyaan ini berkenaan dengan tahap inisiasi ketika bagian-bagain dilibatkan dalam aktivitas pengembangan kurikulum.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Langkah <strong>implementasi </strong>melibatkan presentasi inovasi dan mendapatkan orang-orang untuk mencobanya di dalam kelas mereka atau bidang pendidikan lain yang sesuai. Ini adalah langkah variasi model-model atau pendekatan untuk tahap implementasi, yang mana akan dijelaskan nanti. Tahap yang ketiga adalah <strong><em>maintenance </em></strong>atau pelembagaan, yang mana sangat esensial untuk monitoring inovasi setelah telah diperkenalkan. Jika pemeliharaan tidaklah direncanakan untuk, inovasi yang diperkenalkan sering memudar atau diubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Yang dilibatkan dalam menerapkan program baru harus didukung oleh fakta bahwa sebagian besar pekerjaan dari masa lampau beberapa dekade telah melengkapi taktik atas bagaimana cara mempengaruhi perubahan dalam sekolah. Jon Snyder dan orang lain menunjukkan bahwa riset atas implementasi kurikulum mempunyai penemuan tentang kondisi-kondisi yang memudahkan atau menghalangi keseluruhan proses implementasi. Sesungguhnya, kita mengetahui banyak tentang proses implementasi, dan beberapa peneliti kini lebih sedikit tertarik akan implementasi sebagai proses perubahan dan lebih tertarik akan bagaimana implementasi ditetapkan dan dialami oleh para guru dan para siswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:45pt;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Model </span></strong><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Overcoming Resistance to Change Model (ORC)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Menurut Neal Gross, bahwa kegagalan atau sukses usaha perubahan keorganisasian yang direncanakan pada dasarnya adalah suatu fungsi menyangkut kemampuan para pemimpin untuk mengarahkan perlawanan staf untuk berubah saat tepat sebelum, atau pada saat pengenalan inovasi. Untuk menerapkan suatu program baru, yaitu memperkenalkan perubahan, kita harus memperoleh penasehat (konsultan) untuk program yang baru itu. Kita memerlukan para orang yang bersemangat untuk mulai mengerjakan sesuatu yang baru, untuk melintasi batasan-batasan, dan untuk menyelidiki wilayah baru. Kita memerlukan individu yang menyambut keaneka-ragaman gagasan dan pemikiran, dan siapa yang menerima dan melakukan koreksi kreatif terhadap nilai kurikulum. Untuk menetapkan suatu masyarakat para pendukung suatu program baru, kita harus menunjuk ketakutan mereka, perasaan was-was, salah pengertian, dan faktor lain yang bisa menghalangi penerimaan terhadap perubahan. Kita harus meyakinkan semua tentang nilai-nilai mereka, asumsi, kepercayaan, visi mereka adalah tercakup di program yang baru itu. Kita harus meyakinkan mereka bahwa kita akan perlakukan mereka dan gagasan mereka dengan kejujuran dan <em>humility</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Para <em>leader </em>kurikulum menggunakan model ORC menyadari bahwa mereka harus mengidentifikasi dan berhadapan dengan perlawanan dari staff. Tentu saja, beberapa menggolongkan suatu model seperti ORC sebagai adopsi <em>concerns-based</em> model. Suatu pengambil-alihan pendekatan ini adalah individu itu harus berubah sebelum organisasi dapat diubah. Juga, perubahan adalah suatu pengalaman yang sangat pribadi, dan kita harus mempertimbangkan kepribadian individu untuk berdaya melalui proses implementasi atau perubahan. Apalagi, perubahan yang diperkenalkan harus menunjuk para guru dan ‘pemain kurikulum lain’.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Dalam riset mereka atas implementasi inovasi di perguruan tinggi dan sekolah, Hall dan Loucks sudah mencatat bahwa <em>concern </em>dapat dikelompokkan ke dalam empat langkah pengembangan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Langkah 1: </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Unrelated concerns</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Para guru pada tingkatan ini tidak merasa adanya suatu hubungan antara diri mereka dengan perubahan yang diusulkan. Sebagai contoh, jika suatu ilmu pengetahuan program baru sedang diciptakan dalam suatu sekolah, seorang guru pada langkah ini akan sadar akan usaha tetapi tidak akan mempertimbangkan bahwa ia atau dia akan terpengaruh oleh atau terkait dengan usaha itu. Guru tidak akan menentang perubahan sebab ia benar-benar tidak merasa perubahan mempengaruhi daerah profesionalnya atau pribadinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Langkah 2: </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Personal concerns</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Pada langkah ini, individu bereaksi kepada inovasi dalam hubungan dengan situasi pribadi nya. Ia mempunyai kaitan dengan bagaimana program yang baru, apa dan bagaimana dia sedang lakukan. Contoh, guru akan merasa bahwa ia akan menjadi terlibat dengan program yang baru itu. Guru akan menghadapi pertanyaan seberapa baik ia bisa memberi pengajaran dalam perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Langkah 3: </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Task-related concerns</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Concern pada tingkatan ini berhubungan dengan penggunaan nyata dari inovasi dalam kelas. Contoh, guru akan mempunyai kaitan dengan bagaimana cara benar-benar menerapkan program yang baru. Berapa banyak waktu akan diperlukan untuk pengajaran program baru ini? Materi cukup disajikan? Apakah strategi yang terbaik untuk mengajar program yang baru?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Langkah 4: </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Impact-related concerns</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">. Ketika bereaksi pada langkah ini, seorang guru jadi lebih terkait dengan bagaimana inovasi akan mempengaruhi organisasi. Guru tertarik akan bagaimana program yang baru mungkin mempengaruhi para siswa, para rekan kerja, dan masyarakat. Kekuatan guru ingin menentukan dampak program, pada apa ia sedang mengajar. Contoh, memungkinkan para siswa untuk hidup di masa datang dunia?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Ketika bekerja dengan ORC model, pendidik harus hadapi secara langsung dengan perhatian pada langkah-langkah 2, 3, dan 4. Jika mereka mengabaikannya, masyarakat tidak akan menerima inovasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Organizational Development Model</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pengembangan organisatoris berarti suatu pendekatan yang agak spesifik untuk menyempurnakan perubahan dan peningkatan dalam organisasi. Hal ini merupakan suatu usaha untuk meningkatkan suatu pemecahan dan proses pembaruan organisasi, terutama sekali melalui hasil diagnosa dan manajemen kolaboratif. Penekanan adalah pada kerjasama sekelompok dan kultur organisatoris.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">French and Bell <span style="color:#000000;">melukiskan tujuh karakteristik yang memisahkan pengembangan organisasi dari cara tradisional dalam pengelolaan organisasi, yaitu:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Penekanan pada work tim untuk menujukan isu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Penekanan pada kelompok dan intergroup </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Penggunaan riset di bidang ilmu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">4.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Penekanan pada kerja sama/kolaborasi di dalam organisasi sebagai kultur yang dominan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">5.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perwujudan bahwa kultur harus dirasa sebagai bagian dari kesisteman total</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">6.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perwujudan organisasi yang bertanggung-jawab atas dan bertindak sebagai consultants-facilitators</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">7.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Penghargaan terhadap dinamika berkelanjutan dari organisasi secara terus menerus mengubah lingkungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pengembangan organisatoris memandang proses implementasi kurikulum sebagai suatu proses interaktip berkelanjutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Concerns-Based Adoption Model</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Bagaimana menggunakan pandangan individu sebagai pendekatan dalam sistem persekolahan. Semua perubahan dimulai dengan individu; perubahan individu, dan melalui  perilaku perubahan mereka, institusi juga berubah. Perubahan terjadi ketika perhatian individu diberitahukan. Semua pribadi berubah, dan individu &#8220;membeli saham kongsi&#8221; perubahan yang mereka harus mempunyai kepemilikan kedua-duanya, yaitu perhatian dan proses. Lagipula, mereka harus memandang bahwa hasil dari implementasi mempunyai  suatu dampak pribadi atas profesionalisme hidup mereka. Sebab perubahan mulai dengan individu dan melibatkan individu sepanjang; seluruh proses perubahan, orang harus menyadari bahwa perubahan adalah suatu proses lambat; dan memerlukan waktu untuk mewujudkannya; individu memerlukan waktu untuk belajar ketrampilan baru, merumuskan attitudes baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Langkah-langkah perhatian (guru) berkaitan dengan menerapkan inovasi adalah sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">a.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kesadaran inovasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">b.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kesadaran informasi mengukur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">c.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Perhatian untuk diri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">d.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Berhubungan dengan untuk mengajar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">e.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Berhubungan dengan untuk para siswa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Organizational Parts, Units, and Loops</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Model pengembangan organisatoris dan </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Concerns-Based Adoption Model</span></em><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> mendukung sistem berpikir. Kedua-duanya merpertimbangkan tindakan sebagai hal yang dilakukan dalam suatu organisasi yang digambarkan oleh suatu sistem hubungan, jika tidak ada sistem hubungan yang terlihat: menarik berbagai komponen ke dalam kesatuan utuh, kemudian tidak ada organisasi; ada hanya free-floating komponen. Dalam situasi seperti itu, perubahan yang direncanakan dalam organisasi, sekolah dalam situasi kita, perlu mencoba untuk menerima </span><em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">“win—win”</span></em><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> <span style="color:#000000;">atau </span><em>“win—lose”</em> atau tidak sepadan<span style="color:#000000;">. Dalam menerapkan perubahan akan ada potensi untuk konflik antara orang-orang dan kelompok. bahkan departemen. Walaupun konflik akan terjadi, harus diatur sedemikian sehingga orang-orang menyadari bahwa semua orang berkesempatan menang. Program yang baru yang sedang diterapkan dalam sekolah menghadiahi suatu kesempatan untuk semua bagian: para siswa, para guru, kursi, dan prinsip. Bagaimanapun, implementasi sukses memerlukan energi, waktu, dan kesabaran. Implementasi, agar berhasil, harus dirasa sebagai suatu usaha yang menuntut suatu batasan waktu jangka panjang dan kooperasi dan keterlibatan utama antar orang-orang dan departemen. Lihat tips Kebijaksanaan untuk Promosi Perubahan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kebijaksanaan untuk Promosi Perubahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Persamaan manusia adalah suatu pertimbangan penting untuk implementasi kurikulum. Agen perubahan dan para pemimpin perubahan harus memahami orang-orang dan bagaimana mereka bereaksi untuk berubah. Di sini adalah beberapa gagasan di luar kebiasaan untuk dipertimbangkan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kemajuan dari kepastian ke kerancuan. Meyakinkan segalanya bahwa semua pada tempatnya sebelum mulai implementasi, dan menyadari bahwa beberapa hal-hal tak diduga akan terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pertimbangkan beberapa kekacauan dalam ordermu. Dalam journal implementasi, kadang terjadi kejutan dan kekacauan. Dalam berhadapan kekacauan yang direncanakan kita boleh merangsang modifikasi kreatif dalam implementasi kita, dan membawa ke dalam hubungan keberadaan yang kita tidak pernah membayangkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Lihat makna sesungguhnya dari perilaku orang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">4.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sadarilah bahwa orang-orang akan menentang perubahan, tetapi harus dilakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">5.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Gunakan kemungkinan kekeliruan untuk membangun kredibilitasmu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">6.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Bersikap sensitip</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">7.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tingkatkanlah mutu permanen ke temporer</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">8.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Humor pada saat yang tepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Educational Change Model</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Walaupun ada banyak model implementasi, efektivitas dalam memanfaatkannya tergantung pada sebagian pada seberapa baik kita menyerap keseluruhan konsep implementasi. Michael Fullan telah membahas faktor pokok yang mempengaruhi implementasi, yaitu:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">1.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Karakteristik perubahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-3pt;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">a.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Relevansi dan Kebutuhanhan perubahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-3pt;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">b.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kejelasan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-3pt;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">c.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kompleksitas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-3pt;line-height:normal;margin:0 0 0 21pt;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">d.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Mutu dan program bisa dipraktekkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">2.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Karakteristik sekolah di tingkat daerah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">f.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">        </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sejarah usaha inovatif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">g.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Proses Adopsi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">h.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Dukungan Administratif pusat</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">i.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">         </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Pengembangan staff dalam jabatan dan keikutsertaan)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">j.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">        </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Garis Waktu dan sistem informasi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">k.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Tampakan dan Karakteristik masyarakat </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">3.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Karakteristik di level sekolah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">l.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">         </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> Karakteristik prinsip dan kepemimpinan  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">m.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">     </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> Karakteristik guru dan hubungan  </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">n.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">       </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> Karakteristik siswa dan kebutuhan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">4.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Karakteristik external menuju sistem lokal</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">o.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> Peran para agen pemerintah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">p.</span><span style="font-size:7pt;color:#000000;font-family:&quot;">      </span><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Dana-Dana ekstern</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Orang yang ingin menerapkan kurikulum yang baru perlu memahami karakteristik dari  perubahan yang sedang dipertimbangkan. Sering orang-orang akan menentang inovasi sebab kebutuhan akan perubahan tidaklah diberitahukan atau, jika diberitahukan, tidak yang diterima oleh para orang itu untuk di/terpengaruh oleh perubahan. Kebutuhan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kita jaga. Perubahan pandangan bersamaan dengan nilai-nilai, mereka jadi lebih berkeinginan menerima inovasi yang sedang diusulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:10pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Overview Model Implementasi Kurikulum</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0 0 0 0.25in;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">C.</span></strong><span style="font-size:7pt;font-family:&quot;">     </span><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Kontektualisasi Implementasi Kurikulum Ornstein &amp; Hunkins dengan Implementasi KTSP di Indonesia</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sebagaimana diungkap di depan bahwa implementasi undang-undang dan peraturan sebagai kebijakan pemerintah (sebagaimana KTSP) dalam memacu dan mengontrol pendidikan seringkali menemukan jurang ketidakselarasan antara keduanya. Hal ini sebagaimana diungkap oleh Ornstein &amp; Hunkins bahwa implementasi kurikulum adalah sebuah perubahan, dan perubahan bagi banyak orang adalah menyenangkan apabila mempunyai efek menguntungkan dan menyengsarakan apabila memberatkan. Bagi banyak praktisi pendidikan di satuan tingkat pendidikan memandang KTSP adalah hal yang memberatkan. Bahkan, dengan sinis mereka mengatakan bahwa KTSP adalah produk dari pergantian menteri lama ke menteri baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Sinisme praktisi pendidikan di banyak satuan pendidikan tersebut, selayaknya disikapi secara bijak. Dalam pengertian bahwa KTSP masih sangat perlu disosialisasikan secara sistematis dan massif, sehingga pada gilirannya praktisi pendidikan dan masyarakat mempunyai perhatian yang <em>integrated</em> dengan perhatian pembuat kurikulum (kebijakan). Program sosialisasi harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan <em>audience: </em>budaya, intelegensia, psikologi dana, dan penyemaian nilai-nilai visi bersama antara pembuat kurikulum dan <em>audience</em>. Dengan waktu transisi sampai 2010 dengan efektivitas dan efesiensi tinggi adalah hal yang sangat mungkin melakukan hal ini. Hanya saja, keberadaan orang-orang dengan ‘kepentingan’ keuntungan pribadi atau golongan hedaknya dijadikan permasalahan yang juga diantisipasi (dan ini yang tampaknya lebih rumit).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Mengenai model perubahan apa yang digunakan saat merumuskan KTSP, pereview menggolongkannya pada </span><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Educational Change Model. </span></strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Hal ini terlihat pada faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah, dan juga terlihat pada tipologi perubahannya yang terpusat pada satu kebijakan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang lain. Namun fokus tipologi perubahannya juga berparadigma normatif dan rasionali. Perubahan yang dilakukan dengan KTSP juga mengakomodasi rencana-rencana perubahan yang berbasis pada kepentingan tingkat satuan pendidikan. Untuk strategi perubahan kurikulum KTSP lebih dekat pada strategi <em><span style="color:#000000;">Normative-Reeducative</span></em><span style="color:#000000;">, yaitu strategi berdasar pada kecerdasan/inteligen dan rasionalitas manusia. Atau mungkin, model, tipologi perubahan, dan strategi perubahan kurikulum KTSP adalah eklektik. Menimbang sejarah filsafat pendidikan yang digunakan, aliran psikologi, teori belajar yang digunakan di Indonesia, sangat mungkin bahwa model, tipologi perubahan, dan strategi perubahan kurikulum KTSP adalah berparadigma dan berbasis ‘eklektik’.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Ornstein &amp; Hunkins menemukan bahwa banyak kurikulum baru yang gagal dalam implementasi karena ketiadaan suatu rencana perubahan dalam keseluruhan suatu sistem persekolahan. KTSP sudah direncanakan dalam keseluruhan sistem, namun karena begitu beragamnya <em>key player </em>dan masalah psikologis pembiayaan, dan belum berhasilnya pengitegrasian visi, pereview memprediksi bahwa KTSP akan berjalan timpang, tidak merata antara satuan pendidikan yang satu dengan lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Daftar Bacaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Allan C. Ornstein dan Francis P. Hunkins. 2004. <em>Curriculum: Foundation, Principles, And Issues</em>, Fourth Edition. Boston USA: Pearson Education</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;">Jawa Pos. 2007. <em>SBY Perintahkan Mendiknas Banding Atas Putusan PN Jakpus tentang UNAS</em>. Tanggal 23 Mei 2007, Halaman Utama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0;"><span style="font-size:12pt;color:#000000;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Nana Syaodih Sukmadinata. 1997. <em>Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek</em>, Cetakan Kedua. Bandung: Rosdakarya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">S. Nasution. 2005. <em>Asas-asas Kurikulum</em>, Cetakan Keenam. Jakarta: Bumi Aksara.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=12&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/07/25/implementasi-kurikulumsebuah-perbandingan-antara-kurikulum-ornstein-hunkins-dan-ktsp/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cbaa124598d3ac570039c07683fc58f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lukman tp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENEMUKAN KEMBALI URGENSI TEOLOGI AGAMA-AGAMA</title>
		<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/15/menemukan-kembali-urgensi-teologi-agama-agama/</link>
		<comments>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/15/menemukan-kembali-urgensi-teologi-agama-agama/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Mar 2008 04:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukmantp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologipembelajaran.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lukman A. Irfan   Di tengah perdebatan para pemikir organisasi keagamaan, dalam usaha mencoba mengamati, meneliti, mengklarifikasi, mengkalkulasi dan menata realitas budaya dan peradaban, agar “menjadi  sesuai dengan kehendak Tuhan”, tiga orang: Sholihaddin, Sholihiddin dan Sholihuddin sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sholihaddin seorang pegawai di sebuah mall; Sholihiddin seorang sopir, dan Sholihuddin seorang pegawai negeri rendahan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=8&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Oleh: Lukman A. Irfan</span></b><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></b><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></b><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></b> <b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di tengah perdebatan para pemikir organisasi keagamaan, dalam usaha mencoba mengamati, meneliti, mengklarifikasi, mengkalkulasi dan menata realitas budaya dan peradaban, agar “menjadi  sesuai dengan kehendak Tuhan”, tiga orang: Sholihaddin, Sholihiddin dan Sholihuddin sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Sholihaddin seorang pegawai di sebuah mall; Sholihiddin seorang sopir, dan Sholihuddin seorang pegawai negeri rendahan. Usia ketiga orang tersebut berkisar antara 30 – 40 tahun dengan masing-masing satu istri dan dua anak. Yang berbeda di antara mereka adalah agama, Sholihaddin taat dengan keyakinan Hindunya, Sholihiddin akrab dengan keyakinan Protestannya dan Sholihuddin  kuat dengan keyakinan Islamnya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sebagaimana kesimpulan Weber dalam penelitiannya tentang pengaruh ajaran Kristen Protestan terhadap pemeluknya, khususnya di Eropa Barat dan penelitian Bellah tentang kekuatan motivasi ajaran Tokugawa terhadap kegigihan Samurai dalam membangun Jepang, bahwa secara meyakinkan adanya pengaruh yang sangat kuat antara ajaran agama yang diresapi dan diyakini individu maupun masyarakat terhadap aktivitas di kehidupan nyata (dalam Cholidy Ibrar, dalam M. Masyur Amin dan Ismail S. Ahmad, 1993), maka ketiga orang tersebut adalah representasi dari hasil penelitian tersebut. &#8230;</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selengkapnya…<a href="http://teknologipembelajaran.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/www.geocities.com/teknologipembelajaran/teologi.htm">www.geocities.com/teknologipembelajaran/teologi.htm</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=8&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/15/menemukan-kembali-urgensi-teologi-agama-agama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cbaa124598d3ac570039c07683fc58f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lukman tp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teori Belajar Dalam Desain Sistem Pembelajaran Online Learning</title>
		<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/teori-belajar-dalam-desain-sistem-pembelajaran-online-learning/</link>
		<comments>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/teori-belajar-dalam-desain-sistem-pembelajaran-online-learning/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 03:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukmantp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/teori-belajar-dalam-desain-sistem-pembelajaran-online-learning/</guid>
		<description><![CDATA[(Review Artikel “Foundations of Educational Theory for Online Learning” Karya Mohamed Ally dari Athabasca University dalam Terry Anderson &#38; Fathi Elloumi (Eds.). 2004.  Theory and Practice of Online Learning. Canada. Athabasca University)  &#160; Oleh: Lukman A. Irfan  A. Pendahuluan  Sistem instruksional didesain dengan tujuan utama untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Secara operasional, sistem instruksional memerlukan teori-teori belajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=6&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Review Artikel “Foundations of Educational Theory for Online Learning” </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Karya <span style="color:#292526;">Mohamed Ally dari Athabasca University dalam Terry Anderson &amp; Fathi Elloumi (Eds.). 2004.  <i>Theory and Practice of Online Learning</i>. Canada. Athabasca Uni<i>versity</i>)</span></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><span style="color:#292526;"></span></span><span style="font-size:10pt;color:#292526;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p align="center">&nbsp;</p>
<p align="center"><span style="font-size:10pt;color:#292526;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;color:#292526;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;color:#292526;font-family:Verdana;">Oleh: Lukman A. Irfan</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">A. Pendahuluan</span></b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sistem </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">instruksional didesain dengan tujuan utama untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Secara operasional, sistem instruksional memerlukan teori-teori belajar yang sebagai dasar pijakan aplikasi dan kemungkinan pengembangan sistem. Begitu juga dengan sistem instruksional media Online Learning,<a name="_ftnref1" title="_ftnref1"></a><a href="///C:/Documents%20and%20Settings/Lukman/My%20Documents/DATA-DATA/Data%20Titipan/Lukman%20Pengembangan%20Akademik/2008/Web%20Teknologi%20Pembelajaran%20on%20Pengembangan%20Akademik%20(Pa)/teori_belajar_dalam.html#_ftn1#_ftn1"><span><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Verdana;">[1]</span></span></span><span></span></a><span></span> sebagai media penyampaian, harus disadari bahwa Online Learning bukanlah faktor tunggal yang menentukan kualitas pembelajaran. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Penelitian terkini mengatakan bahwa lingkungan pembelajaran yang bermedia teknologi dapat meningkatkan nilai para pelajar, sikap mereka terhadap belajar, dan evaluasi dari pengalaman belajar mereka. Teknologi juga dapat membantu untuk meningkatkan interaksi antar pengajar dan pelajar, dan membuat proses belajar yang berpusat pada pelajar (<i>student oriented</i>). Walaupun penelitian mengatakan seperti itu, tetapi ada juga penelitian yang berisikan dampak negatif dari Lingkungan Pembelajaran Maya berbasis ini, yaitu para pelajar memungkinkan mengalami perasaan terisolasi, frustasi, cemas, dan kebingungan atau mengurangi minat terhadap bidang studi.</span></p>
<p style="text-indent:27pt;text-align:justify;margin:0;" class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selengkapnya di <a href="http://www.geocities.com/teknologipembelajaran/teori_belajar_dalam.html">www.geocities.com/teknologipembelajaran/teori_belajar_dalam.html</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=6&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/teori-belajar-dalam-desain-sistem-pembelajaran-online-learning/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cbaa124598d3ac570039c07683fc58f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lukman tp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aplikasi Penelitian dan Pengembangan</title>
		<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/aplikasi-penelitian-dan-pengembangan/</link>
		<comments>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/aplikasi-penelitian-dan-pengembangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 03:58:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukmantp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologipembelajaran.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lukman A. Irfan  A.     Pendahuluan Masa remaja adalah masa yang penuh dengan idealisme-idealisme yang membawa banyak nilai-nilai positif, namun banyak juga nilai-nilai negatif yang mengiringinya. Dalam diri remaja tersimpan energi yang besar untuk berkembang, energi motivasi berprestasi, motivasi kreativitas dan motivasi kemandirian. Energi perkembangan tersebut bukan saja mendorong ke arah positif, namun energi tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=4&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="3"><font face="Times New Roman">Oleh: Lukman A. Irfan</font></font><font size="3"><font face="Times New Roman"> </font></font></p>
<h1><font face="Times New Roman"><span style="font-style:normal;"><font size="3">A.</font></span><span style="font-weight:normal;font-size:7pt;font-style:normal;">     </span><font size="3"><span style="font-style:normal;">Pendahuluan</span></font></font></h1>
<p><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;">Masa remaja adalah masa yang penuh dengan idealisme-idealisme yang membawa banyak nilai-nilai positif, namun banyak juga nilai-nilai negatif yang mengiringinya. </span><span style="font-size:12pt;">Dalam diri remaja tersimpan energi yang besar untuk berkembang, energi motivasi berprestasi, motivasi kreativitas dan motivasi kemandirian. </span><span style="font-size:12pt;">Energi perkembangan tersebut bukan saja mendorong ke arah positif, namun energi tersebut adalah netral yang mampu digerakkan ke arah negatif. Kemampuan <i>memanage </i>energi perkembangan pada masa ini sangat penting untuk optimalisasi perkembangan kepribadian menuju dewasa.</span></font><font face="Times New Roman"><span style="font-size:12pt;">Ketidakmampuan memanage energi perkembangan ini akan mengakibatkan energi ini menjadi liar dan buas. Keliaran dan kebuasan energi ini antara lain terlihat dalam fenomena <i>Making love </i>menurut polling yang dilakukan oleh Jawa Pos pada akhir tahun 2001 yang disebarkan kepada 1000 responden hampir 30 persen permisif dengan making love, kemudian fenomena keterlibatan remaja dengan narkoba yang sampai kini berjumlah sekitar 500.000 – 1,5 juta anak, termasuk remaja (Kompas, 8 Januari 2001) dan lain-lain. </span><span style="font-size:12pt;">Kemampuan memanage energi perkembangan ini sangat terkait dengan nilai dan visi yang ada pada diri remaja itu sendiri. Nilai dan visi ini tidak muncul dengan sendirinya, namun lebih banyak dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan sosial serta informasi yang diterima oleh remaja.</span></font><span style="font-size:12pt;"><font face="Times New Roman">Selengkapnya di www.geocities.com/teknologipembelajaran/aplikasi_research.html</font></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=4&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/aplikasi-penelitian-dan-pengembangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cbaa124598d3ac570039c07683fc58f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lukman tp</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kelemahan dan Keunggulan Teori Belajar Andragogi</title>
		<link>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/kelemahan-dan-keunggulan-teori-belajar-andragogi/</link>
		<comments>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/kelemahan-dan-keunggulan-teori-belajar-andragogi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Mar 2008 03:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukmantp</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi Pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/kelemahan-dan-keunggulan-teori-belajar-andragogi/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bambang S. dan Lukman Kedua penulis adalah mahasiswa Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta  A.     Pendahuan Kesadaran bahwa belajar adalah proses menjadi dirinya sendiri (process of becoming person) bukan proses untuk dibentuk (process of beings haped) menurut kehendak orang lain, membawa kesadaran yang lain bahwa kegiatan belajar harus melibatkan individu atau client dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=5&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Oleh: </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bambang S. dan Lukman</span></p>
<p align="center"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kedua penulis adalah mahasiswa Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta</span></p>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></b><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">A.</span></b><span style="font-size:7pt;"><font face="Times New Roman">     </font></span><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Pendahuan</span></b></p>
<p><b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"></span></b><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kesadaran bahwa belajar adalah proses menjadi dirinya sendiri (<i>process of becoming person</i>) bukan proses untuk dibentuk (<i>process of beings haped</i>) menurut kehendak orang lain, membawa kesadaran yang lain bahwa kegiatan belajar harus melibatkan individu atau <i>client</i> dalam proses pemikiran: apa yang mereka inginkan, apa yang dilakukan, menentukan dan merencanakan serta melakukan tindakan apa saja yang perlu untuk memenuhi keinginan tersebut. Inti dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk berkembang dan matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk sosial.</span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Selengkapnya di <a href="http://www.geocities.com/teknologipembelajaran/andragogi.html">http://www.geocities.com/teknologipembelajaran/andragogi.html</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/teknologipembelajaran.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=teknologipembelajaran.wordpress.com&amp;blog=3110998&amp;post=5&amp;subd=teknologipembelajaran&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teknologipembelajaran.wordpress.com/2008/03/13/kelemahan-dan-keunggulan-teori-belajar-andragogi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0cbaa124598d3ac570039c07683fc58f?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lukman tp</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
